Pada kali ini, kita ingin membahas sedikit-banyak hal-hal apa
saja yang terkait dengan ketentuan haji, hikmah-hikmah dibalik rukun haji dan
mengulas kembali sejarah asal mula kewajiban haji tersebut.
Dalam soal haji yang
perlu digarisbawahi adalah Allah mewajibkan ibadah haji bagi yang mampu
melaksanakannya sekali seumur hidup. Sebagimana firman Allah SWT :
وَأَذِّنْ
فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ
كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ "
Artinya : “ dan serulah manusia untuk mengerjakan haji,
niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai
setiap unta kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh. ” (QS.
Al-Hajj {22}:27)
Ayat di atas menjadi bukti atas kewajiban ibadah haji bagi
umat muslim, yang pada saat itu ayat tersebut diturunkan untuk nabi Ibrahim
A.s.
Kemudian, kemampuan yang dimaksud di atas adalah:
1.
Kemampuan material
2.
Kemampuan fisik
3. Kemampuan pengetahuan ibadah haji dan kesiapan mental
Berdasarkan Ayat Al-Qur’an yang berbunyi:
وَلِلَّهِ
عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ
فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ "
Artinya : “ dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah
melaksanakan ibadah ke baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu
mengadakan perjalanan ke sana, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak
memerlukan sesuatu dari seluruh alam). “
Selain dari ketiga jenis kemampuan itu, harus juga terjamin
keamaan baik dalam perjalanan menuju dan kembali, ditempat yang dituju, serta
saat pelaksanaan ibadah hingga selesai. Keamanan keluarga yang ditinggal pun
harus menjadi pertimbangan jangan sampai karena ditinggal pergi mereka menderita.
Sedangkan ulama menambahkan syarat lain bagi wanita, yaitu mahram yang
mendampinginya dalam perjalanan tersebut. dalam madzhab syarat ini dinilai
tidak ketat. Artinya perempuan masih bisa pergi haji dengan orang yang
terpecaya yang mendampinginya dalam satu kelompok. Itu pun secara khusus bagi
wanita-wanita yang dikhawatirkan akan mengalami kesulitan.
Filosofis Simbol-simbol Haji
1.
Pakaian Ihram;
Pakaian memiliki aneka fungsi. Selain sebagai hiasan, juga
untuk melindungi pemakai dari sengatan panas dan dingin serta menjadi pembeda
antara seseorang dengan yang lain. perbedaan itu tidak hanya bersifat material
saja, tetapi sering kali juga dalam profesinya: militer atau sipil, angkatan
udara, polisi, dan angkatan laut dan lain-lain. penanggalan pakaian sehari-hari
menjadi symbol bahwa yang datang kepada Allah harus menanggalkan pakaian
pembedanya dengan manusia lain. semua sama di hadapan Allah.
2.
Melakukan Thawwaf
Thawwaf berkeliling ka’bah kea rah yang bertentangan dengan
jarum jam ini melambangkan peleburan diri manusia bersama semua makhluk dalam
kepatuhan kepada Allah sw. memang segala sesuatu mengarah kepada-Nya.
وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ "
Artinya : “ dan semua sujud kepada Allah baik yang di
langit maupun yang di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa
bayang-bayang mereka, pada waktu pagi dan petang hari. “ (QS. Al-ra’d
{13}:15)
Menurut penelitian Elektron, cairan-cairan yang berada sel
makhluk, bulan beredar mengelilingi bumi. Matahari dan bulan beredar
mengelilingi galaksi dengan cara yang sama, yakni seperti cara Rasul berthawaf.
3.
Melakukan Sa’I
Secara harfiah artinya usaha bersungguh-sungguh atau berjalan
dengan sedikit cepat. Tempat sa’I adalah tempat ibunda hajar, istri Nabi
Ibrahim A.s pergi mencari air untuk anaknya Ismail yang sedang kehausan. Sebab
dahulu Nabi Ibrahim meletakkan Ibu Hajar di lembah yang gersang, tidak ada air
sedikit pun. Ia lari dari bukit shafa ke bukit marwah mencari air tersebut.
Sa’I dilakukan yang intinya adalah menggambarkan bahwa tugas
manusia melakukan usaha semaksimal mungkin dalam hal apapun. Jika ini
dilakukan, yakinlah bahwa Allah akan membantu bantuan serupa seperti yang
dialami oleh Ibunda Hajar.
4.
Wuquf di
Arafah
Arafah arena perenungan. Di sanalah Jemaah haji merenung
tentang Tuhan dan panggilan-Nya serta tujuan panggilan itu. Merenung adalah
denyut kehidupan rohani. Sebagaimana hidup jasmani ditandai denyut jantung maka
hidup ruhani pun demikian. Tanpa renungan kehidupan ruhani pun berhenti, dan
makna hidup menjadi kabur. Bila itu terjadi hari-hari di pentas bumi ini akan
menjadi sia-sia.
5.
Menggunting Rambut Cukur (Tahallul)
Tahallul merupakan tahap akhir pelaksanaan ibadah haji.
Ibadah ini dijadikan lambing keamanan dan kedamaian. Rambut, yang biasanya
hitam itu diibaratkan sebagai dosa-dosa yang telah dilakukan oleh manusia.
mencukurnya bagaikan menanggalkan dosa-dosa itu dari diri yang bersangkutan.
Kesimpulan:
Dari paparan singkat di atas, paling tidak ini adalah
rangkaian ibadah yang mesti dilalui oleh Sang haji untuk menjadikan hajinya
dapat diterima di sisi Allah swt. Dan pada momen dan waktu mendekati hari-hari
haji, sudah semestinya seorang muslim membaca peristiwa-peristiwa zaman nabi
terdahulu untuk agar dapat dipelajari dan diambil hikmah dari apa yang mereka
lakukan. Tidak lain, tidak bukan itu semua adalah telah diperintakan oleh
baginda Muhammad saw. pada umatnya untuk senantiasa menuntut ilmu yang
khususnya terkait dengan setiap ibadah ritual yang akan, sedang ia lakukan. Wa
Allahu a’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar